7 Kesalahpahaman tentang Bimbingan dan Konseling yang sering terjadi di
Sekolah
Guru Bimbingan dan Konseling sering mendapat sigma negatif dari siswa,
sesama guru dan rekan kerja serta masyarakat. Hal itu jelas dipengaruhi karena kebanyakan
orang tidak memahami bagaimana fungsi Bimbingan dan Konseling yang sebenarnya.
Berikut adalah kesalahpahaman tentang
Bimbingan dan Konseling yang sering terjadi di Sekolah :
1.
Konselor di sekolah
dianggap sebagai polisi sekolah.
Konselor = polisi sekolah, stigma ini sering kali melekat pada konselor
disekolah. Karena masih banyak yang menganggap bahwa konselor di sekolah harus
menjaga dan mempertahankan tata tertib, disiplin dan keamanan di sekolah. Tidak
jarang , konselor juga diberi tugas untuk mengusut perkelahian ataupun
pencurian, bahkan diberi wewenang bagi siswa yang bersalah.
2.
Bimbingan dan
Konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasihat.
Bimbingan dan
konseling bukan hanya bantuan yang berupa pemberian nasihat. Pemberian nasihat
merupakan sebagian kecil dari upaya-upaya layanan bimbingan dan konseling.
Layanan bimbingan dan konseling menyangkut seluruh kepentingan dalam rangka
pengembangan pribadi klien secara optimal. Sayangnya, konselor senior yang
sudah terjun kesekolah terus melakukan tradisi “pemberian nasihat” secara terus
menerus sehingga stigma ini terus melekat pada Bimbingan dan Konseling di
sekolah.
3.
Bimbingan dan
Konseling dibatasi hanya pada penanganan masalah-masalah yang bersifat
insidential.
Memang tidak
dipungkiri, pekerjaan bimbingan dan konseling salah satunya bertitik tolak dari
masalah yang dirasakan siswa, khususnya dalam rangka pelayanan responsif.
Tetapi bukan berarti bimbingan dan konseling dikerjakan secara spontan dan
hanya bersifat reakitf dari masalah-masalah yang muncul pada saat itu.
Pekerjaan bimbingan
dan konseling dilakukan berdasarkan program yang sistematis dan terencana, yang
didalamnya menggambarkan sejumlah pekerjaan bimbingan dan konseling yang
bersifat proaktif, antisipatif, baik untuk kepentingan pencegahan (preventif),
pengembangan, dan penyembuhan (kuratif).
4.
Menyamakan pekerjaan
bimbingan dan konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater.
Dalam hal-hal
tertentu, terdapat persamaan antara pekerjaan bimbingan dan konseling dengan
pekerjaan dokter dan psikiater, yaitu ; sama-sama menginginkan konseli/klien
terbebas dari penderitaan yang dialaminya. Kendati demikian, pekerjaan
bimbingan dan konseling tidaklah sama persis dengan pekerjaan dokter atau
psikiater.
Konselor bekerja untuk
membantu orang yang normal (sehat) namun sedang mengalami masalah. Bimbingan
dan konseling memberikan cara-cara pemecahan masalah secara konseptual melalui
perubahan orientasi pribadi, penguatan mental/psikis, modifikasi perilaku, pengubahan
lingkungan, upaya-upaya perbaikan dengan teknik yang khas dengan bimbingan dan
konseling.
5.
Bimbingan dan
Konseling bekerja sendiri.
Pelayanan bimbiga dan
konseling bukanlah proses yang terisolasi, melainkan proses yang sarat dengan
unsur-unsur budaya, sosial, dan lingkungan. Oleh karenanya, pelayanan bimbingan
dan konseling tidak mungkin “menyendiri”. Konselor perlu bekerja sama dengan
orang-orang yang diharapkan apat membantu penanganan masalah yang dialami
siswa.
Disekolah, misalnya,
masalah-masalah yang terjadi pada diri siswa tidak serta merta karena kesalahan
dalam dirinya tetapi juga berkaitan dengan orangtua, teman-teman, guru dan
pihak-pihak lain serta lingkungan rumah dan masyarakat juga dapat menjadi
penyebab masalah dari siswa tersebut.
Oleh sebab itu,
penanganan tidak dapat dilakukan sendiri tetapi juga membutuhkan pihak lain
untuk membantu penyelesaian masalahnya. Guru pembimbing harus menjalin hubungan
yang saling mengerti danmenunjang demi terbantunya siswa yang mengalami masalah
itu.
6.
Menganggap hasil
pekerjaan bimbingan dan konseling harus segera terlihat.
Semua orang
menghendaki agar masalah yang dihadapi siswa dapat teratasi sesegera mungkin
dan hasilnya dapat terlihat segera. Namun, harapan itu sering kali tidak
terjadi karena layanan bimbingan dan konseling memiliki proses yang harus
dimulai dengan melakukan asesmen, kemudian mencari data pendukung untuk
melakukan tindak lanjut terkait siswaa tersebut. Jadi pekerjaan atau layanan BK
bukanlah sebuah kegiatan yang instan dan dapat melihat hasilnya dalam waktu yag
singkat.
7.
Menyamaratakan cara
pemecahan masalah bagi semua klien.
Salah satu dari
kesalahpahaman yang terjadi pada bimbingan dan konseling disekolah. Pihak-pihak
yang tidak memahami BK secara baik akan memberikan penilaian “semau” mereka.
Terkait dengan penanganan terhadap permasalahan siswa. Bisa kita ambil contoh
mengenai kasus keterlambatan datang kesekolah, hal ini merupakan masalah klasik
yang sering terjadi. Namun, jika ditelusuri penyebab dari keterlambatan yang
dilakukan/dialami siswa jelas berbeda. Hal ini juga berpengaruh dengan cara
pemecahan masalah tersebut pada diri massing individu.
Cara untuk mengatasi
masalah haruslah sesuai dengan pribadi siswa dan hal yang berkaitan dengan
siswa. Pada dasarnya, pemakaian cara tergantung pada pribadi siswa, jenis dan
sifat masalah, penyebab terjadinya masalah, tujuan yang ingin dicapai,
kemampuan dari konselor dan sarana yang tersedia.
Telah dijelaskan
diatas mengenai 7 kesalahpahaman mengenai bimbingan dan sekolah yang sering
terjadi di sekolah. Semoga setelah mendapat info ini baik siswa, guru dan
masyarakat bisa lebih memahami apa yang dilakukan oleh konselor di sekolah dan
bagaimana konselor yang seharusnya.

sudah cukup bagus, semoga dapat bermanfaat bagi yang membacanya.
BalasHapusinfonya bermanfaat sekali
BalasHapusinformasinya menarik. semoga tidak terjadi kesalahpahaman lagi kepada guru bk atau konselor sekolah.
BalasHapus